Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2011

Cover Buku IRBI 2011

Judul Buku:
INDEKS RAWAN BENCANA INNDONESIA TAHUN 2011

Penulis:
Lilik Kurniawan, Ridwan Yunus, Mohd. Robbi Amri, Narwawi Pramudiarta

Penerbit: BNPB
Direktorat PRB, Kedeputian Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB

Tahun Terbit: 2011

Deskripsi Buku:
Indeks rawan bencana Indonesia ini selalu diperbaharui setiap 2 (dua) tahun dan indeks tahun 2011 ini adalah versi 2. Versi 1 adalah indeks tahun 2009. Perbedaan versi 2 dan versi 1 adalah : pada versi 1, ada 51 kabupaten/kota yang datanya belum valid, sedang versi 2 seluruh kabupaten/kota sudah lengkap datanya.

Perhitungan Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) merupakan suatu perangkat analisis kebencanaan yang berbentuk indeks yang menunjukkan riwayat nyata kebencanaan yang telah terjadi dan menimbulkan kerugian. Pengembangan dari HDRI ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam manajemen kebencanaan di Indonesia untuk secara sederhana memberikan informasi tentang karakteristik wilayah terhadap jenis kebencanaan yang pernah terjadi dengan dampak kerugian yang ditimbulkannya, baik kerugian nyawa, perumahan, luka-luka dan sebagainya yang dapat dikembangkan sesuai dengan ketersediaan data kerugian yang tersedia dan konsensus pembobotan atas kerugian tersebut.

IRBI dikembangkan atas konsep analisis riwayat kebencanaan yang terjadi dan memberikan kerugian signifikan pada suatu wilayah hingga tingkat kabupaten/kota.

Pengalaman menunjukkan, penggunaan analisis probabilitas statistik dalam menganalisis kejadian kebencanaan, sering menyebabkan suatu data kejadian bencana yang pernah terjadi dan berdampak nyata telah menimbulkan kerugian namun tidak berada di dalam range waktu analisis akhirnya menjadi data yang tidak masuk ke dalam analisis (data out lier), maka skala yang digunakan tidak linear tetapi skala logaritmik. Untuk efek ini, hanya kabupaten yang ada kerugian yang akan diperhitungkan, sebagai log (0) tidak terdefinisi. Kabupaten tanpa kerugian akan diberi nilai 0 (none, atau diabaikan) tingkat risiko historis sebagaimana yang dilakukan dalam penentuan DRI atau GAR.

Hal ini tentu saja bukan berarti bahwa IRBI ini dikembangkan untuk menjadi pengganti alat analisis yang telah diterima secara internasional, namun dengan adanya IRBI ini, hasil analisis menggunakan alat analisis baik dari DRI maupun GAR tersebut dapat tervalidasi dan terkalibrasi dengan baik untuk wilayah kebencanaan dan jenis kebencanaan di Indonesia. Prosedur analisis IRBI dilakukan melalui suatu karakterisasi awal dari data dalam DIBI dan Data Daerah dalam Angka (atau PODES) dari BPS di salah satu wilayah untuk mengidentifikasi pola-pola dan kecenderungan risiko yang telah terjadi (kerugian bencana).

Unduh File: Download IRBI 2011 (6,2 MB)

This entry was posted in Artikel and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply