LANGKAH DEMI LANGKAH MEMETAKAN RISIKO DI DAERAH RAWAN BENCANA

11.10.08
LANGKAH DEMI LANGKAH MEMETAKAN RISIKO DI DAERAH RAWAN BENCANA (Disaster Risk Mapping: Step by Step)

Banyak temen-temen Sukarelawan PMI yang melaksanakan pemetaan bertanya apa langkah-langkah dalam memetakan risiko di daerah rawan bencana?. Mudah-mudahan tulisan berikut bisa mencerahkan, semoga.

LANGKAH DEMI LANGKAH MEMETAKAN RISIKO DI DAERAH RAWAN BENCANA (Disaster Risk Mapping: Step by Step)

Berikut ini adalah langkah-langkah yang diambil dalam memetakan risiko di daerah rawan bencana yang biasa dilakukan oleh PMI.

Langkah I: Review hasil Baseline Survey, VCA dan KAP Survey

Data-data dalam hasil survey-survey baseline dan KAP (Perilaku) serta hasil analisa VCA (Kerentanan dan Kapasitas) haruslah di review ulang antara PMI dan masyarakat setempat sebelum kita memetakan.

Kenapa?

1. Ingat!! pada dasarnya kita memetakan risiko yang di dalamnya terdapat Hazards, Vulnerability dan Capacity, dan data-data tersebut sudah ada pada data-data tersebut, walaupun belum lengkap atau perlu di mutakhirkan (updated).

2. Baseline, KAP dan VCA dilakukan bersama masyarakat sehingga data tersebut bias diandalkan.

3. Pemetaan risiko adalah pembelajaran sambil melakukan dan melakukan sambil belajar.

Apa yang direview?

Reviewlah hal-hal terkait dengan komponen hazard, kerentanan dan kapasitas, misalnya:

1. Jenis-jenis ancaman/hazard
a. Frekuensi
b. Durasi
c. Kemungkinan
2. Jumlah KK dan populasi
3. Jumlah tenaga terlatih bidang kebencanaan dan kesehatan
4. Luas area
5. Kelompok rentan
6. Tenaga medis
7. Sistem peringatan dini yang digunakan, modern maupun tradisional
8. Jalur evakuasi
9. Alat angkutan yang ada dan bisa diguankan disaat bencana

Langkah II: Pemetaan

Pelaksanaan pemetaan haruslah direncanakan dengan baik bersama-sama dengan masyarakat. Tentukan:

1. Siapa saja yang ikut (keikutsertaan masyarakat lokal adalah suatu kewajiban)
2. Dikelompok mana ia ikut, komposisi dalam satu tim pemetaan adalah: KSR spesialis pemetaan (minimal spesialis Pertama), Sibat, Masyarakat dan tokoh masyarakat.
3. Alat dan teknologi apa yang digunakan (software GIS (minimal MapSource), GPS, komputer, dll)
4. Kesenjangan yang ada, misalnya kebutuhan tim dengan anggota masyarakat yang ada, alat dan teknologi yang ada dan yang harus diadakan serta kemana pengadaannya (PMI Daerah, Pusat atau mitra (komunitas pemetaan, perguruan tinggi, spesialis GIS dll))
5. Pembagian tim dan tanggung jawab komponen yang harus dipetakan, misalnya tim yang memetakan peta dasar dan komponen-komponennya (batas desa, dusun, jalan dll) adalah tim I, dst.

Kemudian, lakukan pemetaan dengan penuh tanggung jawab. Ingat!!! Kita bertanggung jawab dalam penyelamatan nyawa.

Gali segala informasi VC dan spasial yang ada di masyarakat.
Pengetahuan lokal pada masyarakat mengenai VC dan spasial dalam upaya pengurangan risiko bencana dan masalah kesehatan masyarakat sangatlah penting. Bagaimana mereka menghadapi bencana adalah salah satu pengetahuan lokal yang bisa digali, diantaranya daerah mana yang terawan, pertama kali terserang, apa tindakan yang dilakukan dan menggunakan apa, dst.

Komponen yang dipetakan:
1. Peta dasar
a. Batas desa/kelurahan/dusun
b. Lifeline
c. Sungai, danau, rawa, laut, dll.

2. Perumahan
3. Sumber-sumber kehidupan
a. Pesawahan, perkebunan, industri rumah tangga
b. Pabrik
c. Toko, warung, kedai, bengkel, dll.

4. Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas
5. Jalur evakuasi, petakan jalur evakuasi yang biasa masyarakat gunakan.

Bagaimana menggunakan GPS pada proses pemetaan dapat dilihat pada buku Panduan Penggunaan GPS Tipe E-Trex Vista & E-Trex Vista CX dan MapSource Untuk Pemetaan Risiko dan buku Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko secara Partisipatif, keduanya terbitan Markas Pusat PMI.

Langkah III: Pengolahan Data

Data-data yang telah didapatkan dari lapangan melalui penggunaan GPS, ditransfer ke computer dan diolah dengan menggunakan software MapSource (software yang kompatibel untuk GPS keluaran Garmin). Pada proses ini kita bisa, secara tidak langsung, memperkenalkan dan sedikit memberikan pelajaran bagaimana mengoperasikan komputer.

Data yang diolah diantaranya adalah menumpangsusunkan data dari berbagai GPS, misalnya dari dua GPS yang menyimpan data perumahan diunggah ke MapSource untuk kemudian dijadikan satu file. Dilanjutkan dengan merubah kode nomor rumah ke nama Kepala Keluarga, misalnya rumah dengan nomor 062 dirubah menjadi Tatang, karena kepala keluarganya adalah Tatang.

Ingat nama atribut jangan ada yang sama, misalnya ada dua nama Tatang maka harus diketahui nama kedua atau nama orang tuanya, misalnya jadi Tatang S dan Tatang bin Fulan. Demikian pula untuk data atribut lainnya, baik di track maupun markpoint.

Bagaimana mengolah data dengan menggunakan MapSource dapat dilihat pada buku Panduan Penggunaan GPS Tipe E-Trex Vista & E-Trex Vista CX dan MapSource Untuk Pemetaan Risiko terbitan Markas Pusat PMI.

Langkah IV: Analisa Data

Setelah diolah maka selanjutnya data yang ada dianalisa. Proses analisa melibatkan masyarakat (seperti pada langkah-langkah sebelumnya). Bagaimana dan apa yang dianalisa dapat dilihat pada buku Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko secara Partisipatif, terbitan Markas Pusat PMI.

Langkah V: Pembuatan Peta Display dan Tumpang Susun

Peta display dan peta tumpangsusun berguna untuk sosialisasi dan advokasi. Kedua peta ini diambil dari data geografis yang sudah kita olah di MapSource. Pembuatannya haruslah dilakukan oleh masyarakat dengan fasilitasi dari KSR spesialis Pemetaan/Pertama. PMI yang menyediakan bahan-bahan yang diperlukan, bila menggunakan pendekatan gotong royong atau PMI dan masyarakat sama-sama menyiapkan materialnya itu lebih bagus.

Alat yang diperlukan diantaranya adalah komputer dan LCD yang digunakan untuk menyorot peta yang sudah kita buat di MapSource ke mal atau kertas pola.

Bisa jadi pada proses ini akan ditemui perdebatan panas mengenai data yang belum ada, ada tapi dianggap kurang tepat atau seharusnya tidak ada. Biarkan masyarakat berdebat, karena mereka punya cara sendiri untuk menyeesaikan konflik itu. Tugas kita adalah jangan lupa mencatat hal-hal baru hasil mereka diskusi. Bila ada satu titik memang perlu diklarifikasi dilapangan, maka harus diklarifikasi ke lapangan bersama masyarakat, terutama dengan yang konflik tadi.

Langkah VI: Penggunaan Peta Display dan Tumpang Susun
Peta display dan peta tumpangsusun yang sudah dibuat bisa digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap bencana dan masalah kesehatan masyarakat.

Letakkan peta display pada tempat yang strategis, mudah dijangkau dan jaga dari tangan jahil.

What’s Next?

Mau diapakan peta yang sudah dibuat dan juga data geografis selanjutnya? Dalam kegiatan PMI, langkah selanjutnya adalah lokakarya masyarakat mengenai Perencanaan Kesiapsiagaan dan Pengurangan Risiko. Dalam lokakarya ini masyarakat membuat langkah-langkah apa yang akan dan dapat dilakukan untuk mengurangi risiko yang ada di daerahnya, sumberdaya yang dibutuhkan dan dari mana saja sumber daya akan diperoleh.

Hal sederhana yang sering terjadi adalah penentuan titik, misalnya, sumber air, maka kita harus melihat peta apakah titik yang diusulkan dibuat sesuai dengan realita dilapangan (betul-betul dibutuhkan), memiliki akses yang mudah untuk digunakan dan aman dari hazard? Bila tidak maka ada yang salah, peta yang salah atau ada oknum yang memaksakan kehendak karena berbagai kepentingan.

Nah pada pembuatan perencanaan ini, data geografis dari pemetaan risiko menjadi acuan disamping data baseline, VCA dan KAP (Perilaku) masyarakat.

http://pgis-sigap.blogspot.com/2008/10/langkah-demi-langkah-memetakan-ri...

Comments

Terima kasih anda telah

Terima kasih anda telah mendukung pendekatan partisipatif dalam pengurangan risiko bencana dengan memuat tulisan saya.

msih kurang bung komponen

msih kurang bung komponen pemetaannya coba d evaluasi lgi ok

pengelolaan untuk data GPS

pengelolaan untuk data GPS tidak cukup dengan map source.....untuk pemetaan dari hasil GPS gunakan archview atau software pemetaan yg lain agar mendapatkan akurasi dalam pemetaan....kalau cuman menggunakan map source tdk cukup.....mapsource hanya digunakan untuk mentransfer data dari GPS ke komputer dan sebaliknya...tapi untuk pemetaan sangat2 tidak akurat pemetaan tersebut.....demikian sebagai masukan dari saya.....tanks

Terima kasih atas

Terima kasih atas masukannya.
Memang bila menggunakan Mapsource saja tidak cukup, tetapi untuk pembelajran bagi masyarakat awam dalam membuat peta saya rasa sudah cukup.
Selanjutnya data yang sudah didapat tersebut memang kami berikan ke GIS spescialist untuk di olah di Arcview.

Tx

Saya tertarik dengan artikel

Saya tertarik dengan artikel anda, bisa Anda dapat memberikan infomasi daerah mana saja yang pernah dilakukan partisipasi GIS

Makasih

Silahkan berkunjung ke

Silahkan berkunjung ke http://pgis-sigap.blogspot.com

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.