Pulau Simeulue, Pesona Aceh yang Bertahan dari Titik Bencana

Pulau Simeulue, Pesona Aceh yang Bertahan dari Titik Bencana

Oleh ; Sardiyoko
Selasa, 2007 Agustus 28

Semua ini Allah yang mengatur, Allah masih sayang sama kami.
Sewaktu Tsunami terjadi banyak yang mengira Pulau Simeulue sudah tenggelam.
Hanya karena kuasa Allah lah kami masih bisa hidup………

Begitulah komentar salah seorang tokoh masyarakat yang penulis temui di tempat pengungsian di Bukit Sirenta (Maret 2005), Desa Labuan Bhakti, Kecamatan Teupah Selatan, kurang lebih 30 Km dari Sinabang Ibu Kota Kabupaten Simeulue. Memang, ketika gempa yang kemudian disusul dengan gelombang Tsunami menluluhlantahkan Propinsi Aceh Darussalam (NAD) tidak seorangpun menyangka jika pulau ini masih ada.
Betapa tidak, daerah episentrum (pusat gempa) hanya berjarak sekitar 41 mil dari pulau ini.Tepatnya pusat gempa berada di sekitar Pulau Tepi, salah satu pulau kecil yang berada di Kabupaten Simuelue. Tetapi kondisi kerusakan dipulau ini serta jumlah korban tidaklah semengerikan di Meulaboh yang berjarak sekitar 105 mil dari pulau ini. Jika menurut hitungan ilmiah, Pulau Simeulue pastilah sudah tenggelam dihantam gempa dan Tsunami.

Memang jika Tuhan berkehendak, apapun bisa terjadi. Menurut salah satu pengungsi yang penulis temui di Kecamatan Alafan (wilayah yang paling parah terkena tsunami) mengatakan, ketika dia melaut melihat ombak yang tingginya melebihi Gunung Sibao menuju daratan. Tapi entah mengapa tiba-tiba sebelum mencapai daratan ombak tersebut berbalik arah, kembali ke tengah laut. “Mungkin balikan ombak yang menuju Simuelue inilah yang menghantam Meulaboh”, katanya.

Perlu diketahui bahwa Gunung Sibao adalah Gunung sekaligus daratan tertinggi yang ada di Pulau Simuelue. Dengan ketinggian sekitar 600 meter diatas permukaan air laut (dpa). Sebagian besar daratan di pulau ini berada pada ketinggian 0-300 meter dpa. Dalam artian jika ombak yang gagal menuju Pulau Simeulue tingginya melebih gunung Sibao, dapat dibayangkan pulau ini pasti sudah tenggelam. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, pulau ini selamat dari kehancuran total. Dari 78 ribu penduduk yang menghuni pulau ini, hanya tujuh orang yang meninggal dunia dan sekitar 20 ribu penduduk yang mengungsi. Padahal hingga dua hari pasca bencana, pulau ini diberitakan sudah tenggelam.

Gambaran Daerah yang Terkena Bencana

Dari delapan kecamatan dan 135 desa yang yang di Simeulu, hampir seluruh penduduk Simeulue yang berada di dekat pantai mengungsi ketika hari pertama dan kedua gempa dan tsunami terjadi. Namun memasuki hari ketiga pengungsi yang rumah dan desanya tidak terkena gempa dan tsunami sudah kembali ke desa masing-masing. Bagi pengungsi yang rumah dan desanya hancur oleh tsunami, hingga sekarang sebagian besar masih tinggal dipengungsian.

Gempa dan tsunami yang titik episentrumnya hanya berjarak sekitar 40 mil dari pulau ini, tepatnya berada di sekitar Pulau Tepi (salah satu dari 41 pulau yang ada di Simeulue) sempat membuat panik penduduk Simuelue. Sebagian besar desa-desa yang berada dipinggiran pantai rusak berat bahkan ada yang rata dengan tanah. Namun desa-desa yang berada yang jauh dari pantai, atau yang berada di dataran yang tinggi tidak tersentuh oleh bencana.

Kecamatan yang 90% lebih desanya hancur akibat gempa dan tsunami adalah di Kecamatan Teupah Barat, dan Kecamatan Alafan. Di Teupah Barat desa-desa yang terkena gempa dan tsunami adalah, Silengkas, Bunon, Angkeo, Laayon, Naibos, Inor, Maudil, Nancala, Salur, Awe Kecil dan Lantik. Sedang di Kecamatan Alafan desa-desa yang terkena gempa dan tsunami adalah, Lewak, Lhok Pauh, Lamereum, Paparas, Langi, Lubuk Baik, Lhok Dalam dan Lafakah.

Kecamatan Salang juga daerah yang sekitar 70% desanya terkena gempa dan tsunami, diantaranya adalah, Detimon, Ujung Salang, Along dan Nasreuhe. Kecamatan lain yang kondisi beberapa desanya terkena gempa dan tsunami adalah Kecamatan Simuelue Tengah di daerah Latak Ayah, Araban, Lakubang, Lambaya, Putra Jaya, Lauke, dan Dibit. Kecamatan Teupah Selatan daerah Labuan Bakti, Kawat, Gudang, dan Labuan Bajau. Kecamatan Simeulue Barat daerah Lhok Makmur, Amabaan, Miteum, Sigulai, Lamamek dan Sibigo bukan Di Sibigo (Ibu Kota Kecamatan Salang) kerusakan rumah penduduk disebabkan oleh gempa bukan dikarenakan tsunami. Kecamatan Simeulu Timur di daerah Ganting, Kuala Makmur dan Air Pinang dan Kecamatan Teluk Dalam merupakan kecamatan yang relatf aman dari gempa dan tsunami. Di kecamatan ini hanya di daerah Sambai yang terdapat kerusakan,namun juga tidak begitu parah.

Kondisi Pengungsian

Kondisi geografi Simuelue yang berbukit-bukit, memudahkan penduduk Simuelue untuk mencari tempat perlindungan dari tsunami. Disamping dekat dengan laut wilayah perumahan penduduk juga sangat dekat dengan daerah berdataran tinggi atau bukit. Jarak antara pantai dengan bukit di sebagian besar daerah di Simuelue tidak sampai 1 km. Namun perkampungan satu dengan yang lainnya terkadang sangat berjauhan meski berada dalam satu desa ataupun terkadang masih dalam satu dusun. Kondisi geografi seperti inilah yang mempermudah masyarakat untuk mencari tempat yang aman sewaktu terjadi bencana. Mereka yang tinggal di tepi pantai untuk mengungsi di daerah tinggi yang lebih aman hanya memerlukan waktu sekitar 5-10 menit.

Namun kondisi geografis yang demikian juga memberikan tipycal pengungsi yang berbeda dengan beberapa pengungsi di derah Aceh lainnya. Titik-titik pengungsian di Simuelue tidak terkonsentrasi pada satu tempat, akan tetapi tersebar di beberapa tempat. Walaupun pengungsi berada dalam satu desa, tetapi mereka berada dalam tempat pengungsian yang berbeda. Jarak titik pengungsian dengan pengungsian yang lain meski agak berjauhan tetapi mereka tetap berada dalam satu desa. Pengungsi di Simuelue juga masih berada di desa asal mereka meski ada yang berada di lain dusun dengan tempat asal mereka.

Ketika hari pertama hingga hari ketiga mengungsi, para pengungsi lari ke tempat yang aman dan yang paling dekat dengan desa mereka. Selama 2-3 hari pengungsi tidur di alam terbuka, mereka belum membuat gubuk-gubuk atau tinggal ditenda-tenda. Baru setelah hari ke tiga dan seterusnya yang dirasa sudah aman, pengungsi mulai membangun gubuk-gubuk sederhana dari papan, kayu atau seng dari sisa-sisa rumah mereka yang hancur yang masih bisa dimanfaatkan. Namun dari data yang dikumpulkan oleh relawan para pengungsi sebagian besar pernah berpindah-pindah tempat mengungsinya. Di Teupah Barat misalnya, dari 32 KK yang ditanyai oleh penulis sebanyak 19 KK mengatakan berpindah-pindah tempat mengungsinya. Intensitas pindah tempatnya yang menyatakan 1 kali sebanyak 4 KK, 2 kali 8 KK, 3 kali 5 KK dan lebih dari 3 kali sebnayak 2 KK.

Di Teupah Selatan, dari 22 KK yang ditanyai oleh penulis 11 KK menyatakan berpindah-pindah tempat mengungsinya dengan intensitas 1 kali 3 orang, 2 kali tiga orang, 4 kali tiga orang dan lebih dari sekali 1 orang. Namun sebagian besar pengungsi yang berpinah-pindah menyatakan bahwa lokasi pindah mereka masih berada di dearah desa mereka, hanya tempatnya semakin menjauh dari pantai.

Para pengungsi ini membangun gubuk-gubuk sederhana ditempat pengungsian. Gubuk pengungsi dibuat dari papan atau kayu yang menggunakan daun rumbia sebagai atapnya. Besar gubuk ini yang paling besar sekitar 3x2 meter dan yang paling kecil sekitar 2x2 meter yang setiap gubuk ditempati oleh satu-dua KK. Dalam satu lokasi pengungsian ditempati sekitar 50-150 KK dengan setiap KKnya 2-5 orang jiwa.

Lokasi pengungsian sebagian besar berada di lereng-lereng bukit. Ada juga yang berada di pinggir-pinggir jalan raya dan ada juga yang berada di halaman sekolah seperti yang ada di halaman SMU I Teupah Selatan. Namun yang pasti ada dua macam tempat yang dianggap aman untuk mengungsi yaitu dataran yang tinggi dan daerah yang dianggap jauh dari jangkauan air laut.

Lokasi pengungsi di daerah Inor dan Naibos, Teupah Barat, mereka membangun gubuk-gubuk pengungsian disepanjang pinggir jalan raya yang berada di dataran tinggi walau jarak mereka dengan pantai tidaklah begitu jauh. Lain halnya dengan pengungsi di Lamamek, Simuelu Barat, lokasi pengungsian masih berada didataran rendah namun jarak dari laut cukup jauh. Demikian halnya dengan pengungsi di Detimon, Along maupun Ujung Salang, Kecamatan Salang, lokasi pengungsian berada didataran tinggi ada yang dikaki bukit dengan jarak dari desa asal cukup jauh. Di Sibao, Simeulu Timur, pengungsi membangun lokasi pengungsiannya di lereng-lereng bukit yang agak jauh dengan pantai. Namun semuanya masih berada di dalam lingkup wilayah desanya.

Lokasi pengungsian yang tidak terkonsentrasi serta lokasi yang sangat susah dijangkau, adalah salah satu masalah dalam menangani pengungsi di Simeulue. Demikian halnya dengan wilayah pengungsian yang masih berada di area wilayah desa merupakan salah satu kemudahan untuk rekontruksi rumah , mulai bekerja kembali maupun dalam penaganan kesehatan.

Simeulue Si Cantik yang Belum Terjamah

Kabupaten Simeulue merupakan kabupaten termuda di Propinsi NAD. Undang-undang No.48 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Simeulue yang menjadikan Simeulue menjadi Kabupaten Otonom. Pada tahun 1965 Simeulue masih menjadi daerah kawedanan di bawah Kabupaten Aceh Barat. Kemudian semenjak tahun 1967 hingga 1996 Simeueu berstatus menjadi wilayah pembantu bupati. Selanjutnya dengan PP No.53 tahun 1996 Simeulue menjadi Kabupaten Adimnistratif. Baru pada tahun 1999 Kabupaten Simeulue menjadi Kabupaten yang Otonom. Perjuangan pulau Simeulue menjadi wilayah Kabupaten yang otonom, merupakan hasil perjuangan panjang rakyat Simeulue semenjak diadakannya Kongres Rakyat Simueleu pada tahun 1957.

Pulau Simeulue dengan ibu kota Sinabang terletak disebelah barat Propinsi NAD, sekitar 105 mil dari Meulaboh (Aceh Barat) atau kurang lebih 85 mil dari Tapak Tuan (Aceh Selatan). Panjang pulau ini kurang lebih 100,2 Km dan lebarnya 8-28 Km, dengan dikelilingi 41 pulau-pulau besar dan kecil. Diantaranya adalah, Pulau Siumat, Panjang, Batu Berlayar, Teupah, Mincau, Simeulu Cut, P. Pinang, Dara, Langeni, Linggam, Lekon, Selaut, Silauik, Tepi, Ina, Alafulu, Penyu, Tinggi, Kecil, Khala-khala, Asu, Babi, Lasia dan pulau-pulau kecil lainnya. Luas keseluruhan Pulau Simeulue beserta seluruh pulau-pulau disekitarnya adalah 212.512 ha, Luas pulau Simuelue sendiri adalah 198.021 Ha dan luas 41 buah pulau kecil di sekitarnya adalah 14.491 Ha
Penduduk Kabupaten Simeulue berjumlah 78.128 ribu jiwa, dengan kepadatan rata-rata 31 jiwa/Km2. Penyebaran penduduk berada di 8 wilayah kecamatan yaitu; Kecamatan Simeulue Timur, Kecamatan Teupah Selatan, Kecamatan Teupah Barat, Kecamatan Simeulue Tengah, Kecamatan Teluk Dalam, Kecamatan Salang, Kecamatan Simelue Barat dan Kecamatan Alafan.

Serta terdiri dari sebelas kemukiman yaitu Kemukiman Teupah Timur dan Teupah Tengah (Simeulue Timur), Kemukiman Teupah Selatan (Teupah Selatan), Kemukiman Teupah Barat (Teupah Barat), Kemukiman Laure dan Bano (Simeulue Tengah), Kemukiman Tete Bano (Teluk Dalam), Kemukiman Salang (Salang), Kemukiman Sigulai dan Sibigo (Simeulue Barat) dan Kemukiman Alavan (Alavan).

Simuelue memiliki dua bahasa asli yaitu bahasa Devayan dan Bahasa Sigulai yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat. Sementara untuk di Kota Sinabang bahasa yang digunakan adalah bahasa pesisir Sumatera (Bahasa Aneuk Jame) yang dialeknya lebih mirip bahasa Padang. Mayoritas penduduk beragama Islam. Dan ada lima suku besar yang ada di Simeulu yaitu; Suku Lanting keturunan dari Bugis, Suku Aceh keturunan dari Pidie, Suku Dagang dari Padang, Suku Lasali keturunan dari Daire (Medan) dan Suku Abon/Karbu yang merupakan keturunan dari Padang. Penempatan suku menyebar, satu suku tidak berada di daerah tertentu serta tidak ada suku yang dominan diatara suku yang lain.

Pulau Simuelue dipenuhi oleh laut dan pantai-pantai yang sangat indah serta perbukitan yang berupa hutan tropis yang belum terjamah oleh tangan manusia. Keindahan laut dan pantai-pantai di Simuelue tidak kalah indahnya dengan wisata laut di Bunaken Manado, Taman Laut di Maluku atau pantai-pantai di pulau Bali. Namun sayang kesemuanya belum tergarap dengan bagus untuk dijadikan wisata alam.

Kendala utama dari pengelolaan wisata alam di pulau ini adalah jalur transportasi yang belum tergarap. Untuk menempuh antar kecamatan diperlukan waktu berjam-jam dengan kondisi jalan yang hanya bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Hanya di kota-kota kecamatan saja jalan yang sudah beraspal, selebihnya masih berupa jalan berbatu yang sebagian besar retak atau patah dikarenakan gempa. Terkadang harus melewati daerah yang masih jarang perumahan penduduk atau harus menggunakan rakit untuk melewati sungai dan perahu kecil bermotor untuk melewati teluk.

Kondisi infrastruktur yang tidak mendukung inilah yang menyebabkan potensi pariwisata laut yang mempesona di Simuelue belum bisa tergarap menjadi daerah wisata yang menarik wisatawan untuk mengunjungi pulau ini. Padahal tempat-tempat wisata olah raga laut seperti surfing dan diving banyak dijumpai dipulau ini. Untuk diving kita bisa mengunjungi ke Pulau Alawa, Pulau Asu dan Sibigo di Kecamatan Simeulue Barat. Atau di Pulau Babi Teupah Selatan dan di Pulau Siumat di Simeulue Timur.

Bagi yang ingin selancar pulau inipun menyediakan tempat untuk selancar yang sangat mempesona seperti di pantai-pantai Simeulue Timur, Teupah Barat dan Teupah Selatan. Ada juga wisata ziarah, makam Teunku Diijung, penyebar agama Islam di pulau ini yang terletak di Desa Latak Ayah Kecamatan Simeulue Timur.

Smong, Penyelamat Simuelue

Masyarakat Pulau Simeulue sudah jauh-jauh hari mengetahui jika sewaktu-waktu Tunami akan datang lagi. Tetapi kapan persis waktunya mereka tidak ada yang tahu. Namun pengalaman tsunami yang menghancurkan pulau ini pada tahun 1907 dijadikan pelajaran berharga oleh masyarakat dipulau ini akan bahayanya tsunami.

Sepertiga lebih penduduk pulau ini meninggal ketika gelombang tsunami menghantam pulai ini pada tahun 1907. Jumlah penduduk ketika itu diperkirakan 3000 orang, dimana sekitar 1000 orang meninggal terkena tsunami. Tinggi gelombang tsunami diperkirakan mencapai 15 meter. Pengalaman buruk inilah yang kemudian dijadikan pelajaran turun temurun hingga kini.

Pelajaran turun temurun ini yang kemudian dijadikan kearifan lokal masyarakat Simeulue dimanapun mereka tinggal, termasuk di luar Simuelue untuk berhati-hati jika terjadi gempa yang disusul dengan surutnya air laut secara tajam serta naik-naiknya ikan-ikan ke permukaan air lat.

Jika gempa yang kuat terjadi, masyarakat Simeulue akan memeriksa ke laut apa terjadi tanda-tanda seperti diatas. Apabila tanda-tanda diatas dilihat atu dirasakan mereka akan menyatakan akan terjadi naiknya air laut ke daratan atau yang biasa mereka sebut ‘Smong”, yang berarti air laut naik atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Tsunami.

Jika keadaan sudah dinyatakan Smong masyarakat bergegas mengungsi untuk mencari tempat yang aman. Tempat yang paling aman untuk mengungsi adalah di dataran tinggi atau dibukit. Karena kondisi geografi Pulau Simeulue yang berbukit-bukit memudahkan masyarakat di pulau ini untuk menyelamatkan diri.
Percaya atau tidak, ternyata kata tsunami sudah dikenal masyarakat Simeulue sejak puluhan tahun silam. Selain menyebut tsunami dengan kata smong yang sudah dikenal oleh masyarakat di Simeulue semenjak tahun 1907, masyarakat disini juga mengenal kata tsumani (hampir mirip dengan kata tsunami) yang berarti bergegas. Setelah tanda-tanda smong sudah dirasakan oleh penduduk pulau ini maka mereka segera bergegas (tsumani) untuk mengungsi mencari tempat yang aman.

Entah orang Jepang yang mengadobsi kata-kata tsumani yang kemudian diubah menjadi tsunami, atau masyarakat Simeulue yang mengadobsi kata-kata tsunami diganti menjadi kata tsumani hingga sekarang belum ada penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Namun yang pasti ketika jaman penjajahan dahulu, Jepang pernah juga menduduki pulau ini setelah merebut dari tangan Belanda.
Namun dari kesemuanya itu kita dapat mengambil pelajaran dari kearipan lokal, yang berupa cerita turun temurun tentang terjadinya smong atau tsunami yang ternyata bisa menjadi penyelamatan ribuan nyawa manusia. Ternyata kearipan lokal bisa menjadi peringatan dini yang bisa menjadi alat pendiktesian bencana alam secara turun temurun.
****************

Diposting oleh SARDIYOKO (YOKO)

http://sardiyoko.blogspot.com/2007/08/pulau-simeulue-pesona-aceh-yang_65...

Comments

tank's sdh memasukkan

tank's sdh memasukkan artikel tenteng pulau simeulue,
saya asli org simeulue....

Simeulu... kau begitu

Simeulu...
kau begitu cantik...
kau begitu menawan...
kau juga bak gadis pingitan...
aku pernah bermimpi untuk menjodohkanmu dengan perjaka metropolitan...

benarkah...
benarkah.. kau masih sendiri...?

rasanya aku ingin sekali melihatmu bahagia...

semoga...

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.