PERTAMA KALI DI INDONESIA DENGAN BEASISWA DIKNAS ; UII Buka Manajemen Rekayasa Kegempaan

PERTAMA KALI DI INDONESIA DENGAN BEASISWA DIKNAS ; UII Buka Manajemen Rekayasa Kegempaan

Saturday, 18 August 2007
YOGYA (KR) - Mengingat posisi rawan gempa di Indonesia, UII mulai tahun ajaran 2007-2008 membuka program beasiswa unggulan Manajemen Rekayasa Kegempaan (MRK). Konsentrasi yang baru pertama kal dibuka di Indonesia ini mengundang 30 calon mahasiswa yang sepenuhnya dengan beasiswa Depdiknas. Untuk tahun pertama program khusus bagi sarjana teknik sipil baik yang sekarang sudah bekerja, freshgraduate, pemerintah, swasta atau LSM.

Ketua Program Magister Teknik Sipil UII Dr Ir Dradjat Suhardjo SU mengemukakan hal tersebut pada wartawan di RM X-tra Hot di Jl Kaliurang, Rabu (15/8). Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Rektor I Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD. Pertemuan diselenggarakan terkait akan segera di-launching dengan kuliah perdana bagi konsentrasi tersebut.

Pada tahap pertama ini menurut Dradjat baru 26 orang yang melakukan her-registrasi setelah melewati seleksi ketat. Di antara mereka dari Kota Yogya, Kebuman, Brebes bahkan juga Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

“Terus terang, kami merasa aneh, seperti Pemda Bantul, Sleman belum merespons sepenuhnya untuk mengirimkan orang yang hendak dididik di sini,” tambahnya.

Dijelaskan, dari serangkaian sosialisasi yang dilakukan untuk merekrut mahasiswa baru S-2 konsentrasi MRK tersebut bukan hal mudah. “Respons pemerintah daerah, malah agak kurang,” katanya. Padahal 5 terbaik dari program ini nanti diharapkan bisa mengikuti semacam lanjutan di mancanegara bahkan jika dimungkinkan untuk mendapatkan double degree.

Dradjat mengemukakan, idealnya selain program yang dibiayai Depdiknas tersebut ada semacam pendamping yang dibiayai APBD dari masing-masing daerah. Mengingat posisi Indonesia yang rawan gempa, sangat diperlukan paling tidak 2 ahli berpendidikan S-2 di bidang kegempaan.

“Kami sebenarnya mengharap ada 60 mahasiswa di mana 30 beasiswa Depdiknas dan 30 lagi biaya APBD,” katanya.

Sementara pakar rekayasa kegempaan yang juga Wakil Rektor I UII, Prof Sarwidi MSCE PhD mengemukakan, kekurangresponsan daerah terhadap program ini sangat mungkin karena kurangnya komunikasi. Meski tidak menutup kemungkinan, katanya, beberapa daerah tidak membuka surat karena kesibukan dengan kegiatan menjelang Pilkada. “Tidak menutup kemungkinan, jika program ini terformalkan di masa mendatang akan menjadi tujuan pendidikan mahasiswa negara lain,” katanya.

Kehadiran konsentrasi studi ini menurut Sarwidi tidak lepas dari posisi Indonesia yang rawan bencana terutama gempa. “Kami memang tidak bisa memrediksi adanya gempa, tapi sebagai pakar kami mencoba mengantisipasi. Kami mengajak semua pihak terutama pemerintah yang bertanggung jawab untuk kesejahteraan warganya untuk mengantisipasi dengan melakukan sosialisasi bangunan tahan gempa,” katanya.

(Fsy)-g

http://222.124.164.132/article.php?sid=134345

Comments

apakah ada beasiswa buat s1

apakah ada beasiswa buat s1 keperawatan?

coba dicari di Website

coba dicari di Website Program Beasiswa Unggulan Depdiknas http://beasiswaunggulan.diknas.go.id/

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.