Lomba Menangkap Jentik, Mengenali Uget-uget supaya Tahu Bahaya

Lomba Menangkap Jentik, Mengenali Uget-uget supaya Tahu Bahaya

Sejumlah murid SD dengan penuh minat melihat satu per satu toples-toples plastik berisi air yang diletakkan di atas meja. "Wah, kalau yang ini, jumlah uget-ugetnya bisa ratusan. Bentuknya ternyata begitu ya," kata seorang dari mereka.

Jentik nyamuk alias uget-uget di toples itu, seakan bintang tamu unik yang menyedot perhatian saat dipajang di Gedung Gapensi Bantul, Sabtu (22/9).

Lomba Menangkap Jentik Tingkat SD/MI se-Bantul yang diikuti 372 sekolah ini memang menarik, juga baru pertama diselenggarakan. Menjadi menarik karena mempertontonkan pembawa virus dengue, penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Metode pelaksanaan lomba juga simpel. Sebelumnya, Jumat, para siswa mengadakan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), plus menangkap jentik-jentik pada tempat berbiak nyamuk yang mereka jumpai di sekolah dan rumah. Sasarannya antara lain bak mandi, pot bunga, talang air, hingga kaleng bekas.

Jentik dikumpulkan dan dibawa ke tempat lomba esok harinya. Semakin banyak jentik, makin besar peluang menang lomba dan mendapat sejumlah uang. "Saya nyari uget-ugetnya di bak mandi," ujar Nur Ginanjar Karim, siswa SD Mangunan Dlingo.

Namun lucunya, dalam lomba itu, banyak juga toples yang permukaan airnya penuh uget-uget. Air dalam toples juga tampak keruh kecoklatan. Mereka agaknya salah tangkap karena habitat nyamuk Aedes aegypti tidak mungkin di air keruh.

"Nyamuk Aedes aegypti hanya mau di air yang jernih dan bening, bukan air keruh seperti di got dan selokan. Sebaliknya, jentik nyamuk yang bukan Aedes dan berukuran lebih besar ini, juga tidak mungkin ada di air bersih," ujar Bintarta Heru, Kepala Seksi Survailance Dinas Kesehatan Bantul.

Jentik-jentik yang ukurannya bisa setengah dari cendol dan berenang di air keruh dalam toples itu adalah nyamuk biasa semisal Culex. Menjadi keprihatinan juga bagi Bintarta karena siswa belum tahu bentuk jentik nyamuk Aedes.

Karena dirasa pengetahuan tentang nyamuk masih kurang, Dinas Kesehatan Bantul bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat mengadakan lomba tersebut. Bantul memang cemas dengan DBD. Sepanjang tahun ini, sudah 11 anak meninggal dari total 479 penderita.

"Saya prihatin karena Bantul juara umum untuk jumlah anak yang meninggal akibat DBD selama 2007. Sebab di Kota Yogyakarta, Sleman, Gunung Kidul, jumlah yang meninggal karena DBD adalah tiga, sembilan, dan satu orang. Kulon Progo malah tidak ada yang meninggal," ujar Bupati Bantul Idham Samawi.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul Siti Noor Zaenab mengutarakan, DBD punya siklus lima tahunan. Setelah kejadian luar biasa di Bantul pada 1998, Angka Kesakitan DBD memang turun. Namun, sejak 1999 sampai 2004, jumlah kasus meningkat.

Angkanya turun lagi di tahun 2005. Namun, pada 2006 kembali naik, bahkan Angka Kesakitan DBD di Bantul adalah 0,67, jauh di atas Angka Kesakitan DBD Nasional yang hanya 0,63. Sehingga, tidak ada jalan lain kecuali memerangi DBD.

"Angka Bebas Jentik (ABJ) di Bantul juga hanya 75 persen, jauh dari angka ideal 95 persen. Rendahnya ABJ adalah indikator program PSN belum optimal," tutur Siti. Adapun penderita DBD terbanyak, yakni 45 persennya, berumur 5-15 tahun.

Bantul harus bersiap karena dalam kalkulasi, siklus tahunan DBD jatuh pada 2008. Karena itulah, diharapkan sekolah dan warga melakukan PSN setidaknya seminggu sekali. Setiap tempat penampungan air harus dicermati. Jangan sampai membiarkan jentik nyamuk Aedes ini berada di air karena mereka, dalam 10 hari akan berubah menjadi ancaman. (PRA)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/24/jogja/1042749.htm

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Komentar Terakhir